Wisata di Malang

Pusat Informasi Wisata dan Event Organizer di Malang Batu Bromo

Becak, Bisa menjadi Icon Wisata Malang

Written by WDM on Nov 10th, 2012 | Filed under: Kabar Malang

Becak MalangArus perkembangan teknologi membuat moda transportasi yang bernama becak semakin terlupakan. Bahkan, dikota-kota besar seperti Jakarta, ala transportasi ramah lingkungan ini dilarang beroperasi di pusat kota. Becak dianggap merusak estetika dan wajah kota. Namun, tidak demikian dengan kota Malang. Keberadaannya menjadi salah satu ikon wisata. Bahkan, banyak turis yang gemar berkeliling kota dengan menggunakan transportasi yang sempat dituding sebagai pengeksploitasi manusia di atas manusia itu.“Unsur-unsur kesenian dan kebudayaan harus ditonjolkan melalui ornamen hiasan-hiasan pada becak wisata tersebut, “lanjut Sonny lagi. Umpamanya lukisan Candi-Candi bersejarah, topeng malangan, Wayang kulit dan lainnya. Tentunya becak wisata tersebut harus dilengkapi dengan ornamen budaya. Becak tersebut juga harus dihias semanis mungkin. Tujuannya agar berbeda dengan becak biasanya. Namun, karena dikhawatirkan menganggu arus lalu-lintas maka ada beberapa ruas jalan yang dilarang untuk dilalui becak. Contohnya kawasan kayu tangan, Jl. K.H Agus Salim (depan Mitra I), dan Alun-alun kota. Padahal daerah tersebut merupakan daerah jujukan wisata “Apabila gagasan tersebut bisa segera terealisasi, kusir becak harus dilengkapi KTA,” ujar Diana. Tak kalah penting, kusir becak tersebut harus dipersiapkan semanis mungkin untuk melayani wisatawan. “Contohnya ramah, sopan, jujur, dan memahami objek wisata yang digemari wisatawan baik lokal maupun mancanegara,” tandasnya“Saya berharap gagasan ini bisa segera disosialisasikan setelah launching Andhong wisata,” ungkapnya. Dimana pusat konsentrasi becak wisata tersebut? Dari informasi yang berhasil dihimpun, kawasan Boulevard atau ijen merupakan salah satunya. Lantasan kawasan tersebut memang kerap menjadi jujugan turis. Itu diakui oleh Jayadi, seorang kusir becak yang biasa mangkal di Jl. Pahlawan Trip. “banyak turis asing atau domestik yang sering mengajak keliling di kawasan ijen dan Boulevard,” terangnya. Pria paruh baya itu mengatakan, ketertarikan para turis terhadap becak karena faktor keunikannya. Turis itu, katanya, biasanya langsung membookingnya tanpa adanya limit waktu. “mereka minta berkeliling sampe puas. Biasanya mereka juga diantar ke tempat favorit seperti Toko Oen, Splendid, dan Museum,” ujarnya. Sebagai warga asli Malang, bapak 4 orang putra ini mengaku selalu menerapkan tarif sewajarnya. Jayadi juga tidak memasang tarif tinggi bagi para penumpangnya. “biasanya penumpang bisa mengira-ngira sendiri. Kadang kalau turis asing bisa memberi upah hingga Rp 25 ribu,” tandasnya. Jayadi mengaku setuju jika ada becak wisata.



Comments are closed.