Relief Candi Kidal Lebih Cantik Daripada Borobudur

Candi Kidal

Candi KidalTahun 1811, Thimas Stamford Bingley Raffles melakukan perjalanan dari Pasuruan ke wilayah Kabupaten Malang. Letnan Gubernur Hindi Belanda di Jawa itu begitu mengagumi beberapa peninggalan bersejarah berupa candi. Mulai dari Candi Singosari, Kidal, dan Candi jago. Kisah perjalanannya ke tiga candi tersebut dia tulis dengan sangat runtut di bukunya; History of Java. Berikut bagian dari catatannya itu :

Dalam catatnta, Raffles melakukan perjalanan itu dengan berkuda. Begitu masuk Lawang, diceritakan oleh Raffles dia melihat benteng – benteng besar dan lebatnya pohon waringin (beringin). Raffles juga mengunjungi reruntuhan Kerajaan Singhasari di Singosari. Saat itu digambarkan, begitu masuk wilayah Singosari kondisinya dipenuhi dengan hutan Jati. Objek pertama yang menarik perhatiannya adalah reruntuhan Candi Singosari yang berbentuk persegi dan memiliki pintu masuk di sisi Barat. Saat itu Raffles menuliskan bahwa tinggi candi masih sekitar 30 meter. Sepanjang pintu masuk, terdapat Gorgon berkepala besar. Gorgon ini mungkin maksudnya adalah arca – arca bergigi taring dan berhiaskan ular. Raffles menuliskan, di kawasan Singosari saat itu banyak terdapat benda – benda bersejarah yang berada di sekitar candi. Di kawasan itu juga ditemukan beberapa ceruk (lubang atau rongga) yang berada di pintu Barat Candi. Ceruk ceruk itu terdapat banyak peninggalan bersejarah.

 Menurut informasi yang didapat Raffles kala itu, benda – benda sejarah tersebut diantaranya berupa patung) sudah diambil Nicholas Engelhard yang merupakan  Gubernur Pantai Timur Laut Jawa pada (1805 – 1808). Benda – benda itu kemudian di bawa ke Belanda. Saat memasuki area candi, yang terlihat pertama kali oleh Raffles adalah bebatuan yang sengaja disusun sebagai pijakan. Selain itu juga terdapat lubang uang dalam dan batu besar berbentuk persegi yang diletakkan begitu saja di salah satu sisi. Lubang tersbut elingkari pusat batu dengan sempurna. Kemungkinan besar tempat tersebut dijadikan altar, pondasi arca, atau yoni. Tanpa atap, di bagian reruntuhan terdapat teras yang rendah. Di sana terdapat dua patung penjaga dengan tongkat di tangan dan disandarkan di bahu. Ptung ini dibentuk dengan kasar. Menurut Raffles, patung penjaga pintu Singosari mirip dengan yang ada di Prambanan. Tingginya tidak lebih dari 3 meter. Patung dua penjaga yang dimaksud Raffles ini adalah Arca Dwarapala yang sampai saat ini masih ada.

Menurut Raffles, perangkat, ornamen, dan gaya umum di Candi Singosari tidak jauh beda dengan candi – candi besar yang lain seperti Prambanan. Bentuk bangunan mungkin beda. Tapi di bagian dalam, pada prinsipnya sama. Yaitu tanpa ada lubang yang membuat cahay bisa masuk dari atas bangunan. Menurut Raffles, disebutkan bahwa ada Benteng Nandi di Singosari yang saat itu masih terlihat sempurna. Kecuali bagian ujungnya. Tingginya kurang lebih 5 kaki, dan dikerjakan dengan perpaduan dan seni yang baik. Di dekat benteng tersebut, di atas sebatang pohon, terdapat patung Brahma yang megah. Dengan empat kepala yang masih utuh, kecuali bagian hidungnya yang terpotong.

Tidak jauh dari tempat tersebut, terdapat patung Mahadewa yang bisa dikenali dari trisulanya. Pada salah satu bagiannya terdapat ukiran berkarakter Devanagari. Batu lain dengan bentuk yang hampir sama berdirinya di dekatnya. Orang Hindu yang menemani rombongan Raffles menyebutkannya sebagai Brahmana. Sayang, dilukiskan oleh Raffles, banyak bagian dari patung itu yang terpotong. Seratus meter dari tempat ini, Raffles menemukan patung Ganisa (Ganesha) dengan ukuran besar uang dirampungkan dengan baik. Beralaskan tengkorak. Dan nampaknya tengkorak tersebut tidak hanya dijadikan hiasan telinga, tapi juga sebagai dekorasi di setiap bagian. Dari tempat patung itu berdiri, dan dilihat dari bentuk arca tersebut, menyiratkan bahwa bagian ini adalah bagian penting dari candi. Agak masuk ke dalam hutan, rombongan Raffles menemukan patung lain dengan ukuran tak kalah besar. Bentuknya sama dengan yang ada di Prambanan. Patung tersebut berdiri di pintu masuk teras batu. Hanya saja, disebutkan oleh Raffles, patung itu banyak bagian yang rusak.

Raffles juga menggambarkan adanya sebuah patung yang tampak roboh dari teras. Tingginya sekitar 18 meter dan telah usang. Patung itu dibuat dari batu dengan tinggi sekitar 4 – 65 kaki dan tebal 3 kaki. Setelah menelusuri reruntuhan di Singasari, rombongan Raffles menuju Malang, jauhnya sekitar 30 mil dari Lawang. Di malam harinya mereka mengunjungi reruntuhan di Supiturang yang disebut KOtah Bedah atau benteng runtuh. Ini adalah situasi tekakhir yang dibentuk oleh pengungsi dari Majapahit. Keesokan harinya, rombongan Raffles melanjutkan perjalanan di Kedal (Candi Kidal) dan Jagu (candi Jago). Lokasinya digambarkan Raffles sekitar 7 mil jauhnya dari Malang arah Tenggara. Di Kedal, disebutkan dalam catatan Raffles, terdapat candi batu yang sangat cantik, tingginya sekita 35 meter. Di candi tersebut terdapat patung singa di masing – masing sudut dan sisi tangga pintu masuk. Di setiap bagian yang rendah, di antara singa, terdapat relief pada tembokya. Relief dan patung pada candi ini mempunyai gaya yang sama seperti Prambanan dan Borobudur. Tapi lebih cantik lagi. Ketika berada di Jagu (Candi Jago), rombongan Raffles menemukan reruntuhan yang lebih luas. Di antara puing – puing yang berserakan itu, terdapat patung Dewa Hindu. Pada dasarnya bentuknya sempurna. Cuma sayang kala itu, bagian kepala hilang.