Sendra Tari Joko Seger dan Roro Anteng

Yadya Kesada Bromo

Yadya Kesada BromoDingin malam itu menusuk tulang, namun kerumunan orang di Pendopo Agung, desa Ngadisari, Probolinggo, tidak terusik. Dengan berbalut jaket dan sarung, mereka tetap setia menyaksikan pementasan Sendra Tari Roro Anteng dan Joko Seger hingga tuntas. Pendopo Agung malam itu tidak hanya menjadi tempat pementasan Sendra Tari Roro Anteng dan Joko Seger, tarian khas suku Tengger yang Kesada di Bromo. Pendopo yang kerap dijadikan tempat pertemuan masyarakat Tengger ini sekaligus menjadi tempat pengukuhan sesepuh Tengger oleh Dukun tertinggi Tengger, Mudjono. Beberapa orang yang dikukuhkan tersebut, merupakan tokoh masyarakat yang dianggap banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat Tengger dan sekitarnya. Tari Roro Anteng dan Joko Seger sendiri dipentaskan terakhir atau sebagai penutup acara ‘Malam Kesenian dan Pengukuhan Sesepuh Tengger – Upacara Yadnya Kesada’. Pementasan Sendra Tari Malam itu diawali dengan refleksi bayangan pada layar putih, kemudian terdengar yang intinya agar kisah ini sebagai bahan renungan penonton. Setelah layar terbuka muncul beberapa orang berpakaian serba putih berjalan beriringan sebagai penggambaran orang-orang suci pada jaman itu. Tarian ini menceritakan tentang pasangan Roro Anteng dan Joko seger sekaligus asal muasal diadakannya Yadnya Kesada. Tarian yang berdurasi sekitar 20 menit ini sudah mencakup cerita tentang pernikahan Roro Anteng dan Joko Seger. Hal ini digambarkan dengan munculnya 6 penari berpakaian khas wanita Bali yang mengaburkan bunga. Setelah itu penggambaran prosesi pernikahan oleh seorang Pandita. Tiap segmen dari cerita ini dihubungkan dengan tarian-tarian yang dibawakan oleh beberapa remaja putri. Di penghubung segmen pertama, ada empat penari perempuan dengan hiasan kumis dan janggut berpakaian khas penari Jawa Timur. Dengan kerincingan di kaki, tarian mereka menggabungkan antara hentakan kaki dan gerak kepala yang mengikuti bunyi kerincingan. Di penghubung segmen kedua ada penari perempuan yang lincah membawa keranjang anyaman bambu. Sementara penari Roro Anteng dan Joko Seger, menari dengan gerakan yang gemulai, terkesan lamban namun anggun, layaknya sebuah tarian yang biasa dibawakan oleh penari keraton atau kerajaan. Mungkin karena Roro Anteng dalam kisahnya merupakan keturunan raja Majapahit. Penari yang menggambarkan anak-anak dari Roro Anteng dan Joko Seger yang seharusnya ada 25 diwakilkan oleh 15 orang saja. Namun inti cerita ketika salah seorang anak ‘diambil’ Bromo, digambarkan jelas. Seorang anak diangkat oleh penari dengan efek lighting merah yang menggambarkan lava Bromo. Yang membuat penonton lebih kagum lagi adalah beberapa penari yang menggunakan kemben atau kebaya yang tipis, padahal suhu malam itu bisa mencapai 15 derajat celcius. Sementara penonton harus berkurang sarung dan jaket untuk bisa bertahan.