Wayang Topeng, Kini Generasi ke-5

Wayang Topeng

Wayang TopengKabupaten Malang memiliki kekayaan budaya kesenian tradisional wayang topeng dan topeng Malang. Budaya seni tradisional wayang topeng ini ternyata berasal dari sebuah kampung Madura (kampung yang dominan dihuni orang dari suku Madura) di kawasan Dukuh Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji. Kesenian wayang topeng sendiri saat ini sudah masuk lima generasi.
Puluhan tahun yang lalu, kesenian wayang topeng ini kali pertama dikenalkan oleh Serun (alm) sekitar tahun 1900-an. Kepiawaiannya melakonkan wayang topeng lalu diteruskan anaknya bernama Kiman (alm). Selanjutnya, kesenian topeng ini diwariskan Kiman ke anaknya yang bernama Mbh Karimun (alm). “Sejak ditangani Mbh Karimun, kesenian wayang topeng semakin berkembang pesat,” ujar Tri Handoyo, cucu ketiga Mbah Karimun Karimun yang kini mewarisi bakat seni Mbah Karimun.
Wayang topeng yang dibawa Mbah Karimun makin tersohor di seluruh nusantara hingga mancanegara. Setiap wayang topeng tampil, cerita yang dibawakan adalah kisah Panji yang menceritakan percitaan Raden Panji Asmoro Bangun (InuKertapati) dengan Dewi Sekartaji (Chandra Kirana). Dalam perjalannaya, Mbah kariun diberi gelar Sang Maestro Topeng dari Kementrian Pariwisata RI pada 2009.
Suatu ketika pada pengungsian perang sekitar tahun 1940, property untuk wayang topeng Mbah Karimun banyak yang hilang. Padahal kala itu, topeng adalah barang berharga. “Sebab, pada bagian topeng ada lempengan emas dan berhias intan permata,” jelas Handoyo. Akibatnya, karena kondisi perang, wayang topeng sangat vakum sekitar dua tahunan. Akhirnya, Mbah Karimun berinisiatif membuat topeng sendiri. Kali pertama, Mabh Krimun secara otodidak membuat topeng Malang dibantu anak tunggalnya yang bernama Taslan 9alm).
Dengan membuat topeng sendiri, kata dia, kesenian wayang topeng mulai hidup kembali. Mbah Karimun mendirikan Padepokan Seni Topeng Asmoro Bangun di Jalan Prajurit Slemet, Kedungmonggo, Karangpandan, Pakisaji. Padepokan seni ini diresmikan oleh Bupati Malang Edi Slamet pada tahun 1982. Selanjutnya, pada 1988 sudah mewakili Jatim di sebuah pentas seni di Jakarta.
Padepokan Seni Topeng Asmoro Bangun hhingg saat ini sangat sarat aktivitas. Ada tiga kegiatan seni yang semuanya itu digelar rutin dan gratis. Yakni latihan menari topeng, karawitan, dan pertunjukan. Seperti setiap Minggu pagi pukul 09.00 ada latihan menari topeng yang diikuti sekitar 50-an anak – anak dari SD, SMP, hingga mahasiswa. Lalu, acara latihan karawitan rutin digelar satu minggu tiga kali. Ketiga, acara pertunjukan rutin satu bulan sekali, Gebyak Malam Senin Legian. “Acara yang memakan waktu dua jam ini dipercaya sebagai hari keramat desa, yang diadakan pada Senin Legi, pukul 19.00,” kata Handoyo.
Kegiatan seni di padepokan ini mulai dipegang Handoyo, cucu Mbah Karimun sejak 1992, setelah dipegang Taslam, ayah Handoko meninggal dunia. Dan, pada 1995 Handoyo makin fokus memegang kendali padepokan, karena Mbah Karimun sakit setelah kecelakaan.
Handoyo dibantu istrinya, Saini dan kakak nomor duanya, Ribut Hariti yang melanjutkan kesenian wayang topeng dan memproduksi topeng. “Kami cucu Mbah Krimun punya tekad ingin terus melestarikan kesenian wayang topeng dan topeng Malang ini. Semua yang dilakukan saat Mbah Mun masih ada, kami tetap lakukan hingga saat ini.

Sumber : Jawapos 28 Nov 2013